The Courage to Be Disliked - Berani tidak disukai.
"Berani Tidak Disukai, yang sudah terjual lebih dari 3,5 juta eksemplar, mengungkap rahasia mengeluarkan kekuatan terpendam yang memungkinkan Anda meraih kebahagiaan yang hakiki dan menjadi sosok yang Anda idam-idamkan. Apakah kebahagiaan adalah sesuatu yang Anda pilih?"
Gitu kata tulisan belakang cover bukunya. Sungguh menarik dan jadi pengen langsung ngulik. Buku ini adalah buku pertama yang selesai aku baca di 2021. Sejujurnya gak dibaca dalam 3 hari juga sih, mulai baca ketika libur natal. So it takes around 1 week to finish this 300+ pages book. Not bad at all, malah justru hebat banget semingguan bisa kelar satu buku. Kalo gini rajinnya setahun bisa baca 52 buku dong. Yah, mari kita niatkan rajin dulu yah teman-teman.
Balik lagi ke buku ini, tempo hari sempet liat versi inggrisnya berjudul The Courage to be Disliked di periplus. Baik versi inggris ataupun terjemahan, desain covernya tenang banget. Putih bersih, ga banyak gambar, dan judulnya oh so intriguing bagi jiwa sobat sambat ini. Pun ada tambahan penjelasan: The japanese phenomenon that shows you how to change your life and achieve real happiness. Selain itu di sampul depan sudah tertulis, "Marie Kondo, tapi untuk jiwa. Wow! Siapa yang ga pengen baca? Berasa langsung akan decluttering pikiran-pikiran yang tidak sparks joy kalo.
Walau sejujurnya, awalnya beli buku ini karena desain covernya yang bersih, topiknya yang relate, dan sepertinya tipe buku yang ga terlalu banyak mikir, namun ternyata aku salah. Menurutku ini salah satu buku yang eyeopening selain The Art of Not Giving A Fuck-nya Mark Manson.
Berani Tidak Disukai menyajikan jawabannya secara sederhana dan lugas. Berdasarkan teori Alfred Adler, satu dari tiga psikolog terkemuka abad kesembilan belas selain Freud dan Jung, buku ini mengikuti percakapan yang menggugah antara seorang filsuf dan seorang pemuda. Yes kamu ga salah baca, formatnya memang percakapan. Buku ini ditulis dalam format ngobrol santai yang menurutku jadi bikin betah untuk dibaca. Mikir, tapi berasa ga mikir-mikir banget. Karena aku berasa jadi orang ketiga dalam percakapan tersebut. Bukan setan tentunya ya, yaaaah berasa jadi observer dalam diskusinya. Dalam lima percakapan yang terjalin, sang filsuf membantu pemuda ini memahami bagaimana masing-masing dari kita mampu menentukan arah hidup kita, bebas dari belenggu trauma masa lalu dan beban ekspektasi orang lain.
Buku ini dibuka dengan pertanyaan awal pemuda "Apakah kau percaya bahwa dalam dunia ini, dalam segala cara, adalah tempat yang sederhana?". Sang filsuf menjawab, "Ya tentu saja." Pemuda yang merasa gak setuju akhirnya berdebat panjang lebar. Sang filsuf tetap menjawab tenang dan menjawab, " Tidak ada seorang pun di antara kita yang tinggal dalam dunia yang objektif, melainkan dunia yang kita maknai secara subjektif. Dunia yang engkau lihat berbeda dengan dunia yang kulihat, dan mustahil berbagi duniamu dengan orang lain." Awalnya, aku ga paham maksud kalimat ini apa. Tapi pas dibaca ulang dan diresapi kok ada benarnya. Interpretasi manusia atas kehidupan ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor unik yang hanya dialami oleh masing-masing manusia. Jadi yaaaa emang bener gabisa disamaratakan.
Pembicaraan antara pemuda berlanjut. Dalam buku ini diceritakan menjadi pembicaraan 5 malam. Malam pertama, sang filsuf membahas tentang menyangkal keberadaan trauma. Malam kedua, mereka membahas tenang semua persoalan adalah tentang hubungan interpersonal. Malam ketiga, mereka membicarakan tentang menyisihkan tugas-tugas orang lain. Malam keempat, mereka berdebat tentang dimanakah dunia ini. Dan malam terakhir, sang filsuf menjelaskan tentang hidup dengan sungguh-sungguh di sini pada saat ini.
Pembicaraan mereka berdasar pada teori psikologi Adler. Detailnya bisa cari di google, tapi poinnya adalah berfokus pada tujuan yang ingin dicapai atau dalam teori psikologi Adler disebut teleologi. Banyak banget diskusi menarik dari malam pertama sampe kelima yang membuka perspektif baru dalam memandang sesuatu. Nah coba aku share yang menurutku menarik. 1. Trauma itu gak ada
Apapun yang terjadi
pada kita tidak menimbulkan trauma. Namun sebaliknya, kitalah yang mengartikan
pengalaman masa lalu tersebut sesuai dengan tujuan kita. Kita ga ditentuin sama
pengalaman kita, namun bergantung pada bagaimana kita memaknai berbagai
pengalaman itu. Gini deh perumpamaanya. Misalnya kita merasa ga bisa bicara di
depan umum. Kita mulai cari alasan-alasan untuk mendukung pemikiran itu.
Misalnya karena pernah diketawain di kelas karena gabisa ngeja suatu kalimat
waktu kecil, grogi berlebihan, dan banyak alasan-alasan lain. Padahal semua
alasan itu hanya diciptakan untuk membuat kita mencapai tujuan tadi, "ga
bisa bicara di depan umum". Pendapat ini memang cukup bertentangan dengan
yang kita yakini sekarang ya. Aku pribadi cenderung menganalisis suatu hal dari
hubungan sebab-akibat. Tapi kalo menurut pendapat sang filsuf ini, ada benarnya
juga.
2. Tugas-Tugas Kehidupan
Kata kehidupan
dapat dimaknai sebagai cara menelusuri masa kanak-kanak. Ada waktunya anak
harus bisa mandiri dari orang tuanya, secara mental maupun sosial. Semakin ia
bertumbuh dewasa, ia akan memiliki pekerjaan, hubungan pertemanan yang makin
luas, hubungan romantisme, hingga ke pernikahan dan bahkan punya anak.
Siklusnya Kembali seperti awal, hubungan orang tua dan anak. Menurut Adler, ada
tiga kategori tugas kehidupan yang timbul dari hubungan interpersonal proses-proses
kehidupan. Tidak hanya itu, tapi juga
considering kedalaman dan jarak hubungan interpersonal seseorang. Adler
menyebutnya tugas untuk bekerja, tugas untuk berteman, dan tugas untuk
mencintai. Ketiga itulah yang disebut tugas kehidupan.
Misalnya, tugas kehidupan yang pertama yaitu tugas untuk bekerja. Terlepas dari pekerjaanya, tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan seorang diri. Jika dilihat dari point of view jarak dan kedalaman, hubungan interpersonal dalam lingkungan pekerjaan fokusnya adalah bekerja sama untuk meraih hasil yang ingin dicapai. Walau dalam prosesnya mungkin ada friksi tipis-tipis, tapi mau gak mau yang tetep harus bekerja sama. Tugas kehidupan yang kedua adalah tugas untuk berteman. Ini lebih luas lagi dari segi jarak dan tentu juga lebih sulit untuk dimulai dan diperdalam. Sama lah kayak sahabat karib gitu. Susah nemunya kan. Selanjutnya, tugas ketiga nih yang agak berat, tugas untuk mencintai. Sebenernya kebagi jadi dua tahap, yaitu hubungan asmara dan hubungan keluarga khususnya orang tua – anak. Ini yang paling sulit. Ada pandangan yang akhirnya membuat saling membatasi antar pasangan, walau pada dasarnya mencintai itu adalah tidak saling membatasi dan bersikap membebaskan. Sesungguhnya dalam menjalani tugas-tugas inipun, kita tidak boleh saling mengintervensi karena bikin capek hati.
3. The earth doesn’t revolve around you
Kamu bukan pusat dunia. Cuma kamu yang memperhatikan diri sendiri. Kalo kita focus pada pemahaman “aku adalah pusat dunia” maka kita pasti akan selalu focus ke “aku”. Padahal, “aku” ini adalah bagian dari komunitas yang lebih besar, sebuah masyarakat. Kita hanya bagian, bukan pusatnya. Kalau berpikir aku adalah pusat dunia, pasti gak bakal kepikiran sama sekali untuk berkomitmen terhadap masyarakat. Selalu bakal mikir apa yang bisa aku dapatkan dari orang ini, bukan apa yang bisa aku berikan untuk orang ini?
4. Harga diri dan kebahagiaan
Kapan seseorang
dikatakan dia sudah merasa berharga? Ketika seseorang mampu merasakan bahwa aku
berguna untuk masyarakat, barulah dia bisa
memiliki pemahaman sejati akan nilai dirinya. Bukan bahwa dia berguna masyarakat,
tapi dia bisa bertindak bagi masyarakat. Bagi orang lain. Bahwa dia merasa
bahwa aku berguna bagi orang lain, bahwa aku bisa berkontribusi untuk orang
lain secara subyektif, bukan dinilai “baik” oleh orang lain. Di titik
itulah , setidaknya kita bisa memiliki pemahaman yang sesungguhnya akan nilai
kita sendiri.
Kebahagiaan diperoleh Ketika sudah bisa berkontribusi pada orang
lain. Entah itu berguna dalam level Tindakan maupun pada level keberadaan. Ketika
kita sudah merasa berkontribusi bagi orang lain, maka tidak lagi penting
pengakuan dari orang lain. Menerima diri apa adanya tentu menjadi poin penting.
Kita hanya focus pada diri kita bagaimana adanya. Yakin pada orang lain, entah
apa yang pandangan mereka terhadap kita, itu bukanlah tugas kita. Karena udah
sadar “aku berguna bagi seseorang” tidak ada lagi Hasrat untuk diakui oleh orang
lain.
5. Kebebasan sejati
Kata sang filsuf,
kebebasan artinya tidak disukai oleh orang lain. Ketika tidak disukai, artinya
kamu sedang menggunakan kebebasanmu dan hidup dalam kebebasan, sesuai dengan
prinsip-prinsipmu. Ada harga yang harus dibayar Ketika seseorang ingin menggunakan
kebebasannya. Dan dalam hubungan interpersonal, harga yang dibayar adalah dibenci
orang lain. Berarti kalo kita mau hidup bebas, kita harus jadi orang jahat biar
dibenci orang lain? Ga gitu juga dong. Poinnya ada pada memisahkan tugas-tugas
kita masing-masing. Ga peduli mikir karena aku udah ngelakuin ini makanya orang
harus suka sama aku. Itu bukan tugas kita untuk mengintervensinya. Kita bisa
aja bawa kuda ke air, tapi bukan tugas kita mastiin kuda itu minum apa nggak.
Overall, buku ini
bikin aku belajar perspektif yang berbeda dalam menanggapi dan mencari solusi
dari masalah hidup. Emang, pada dasarnya hidup ini adalah perjalanan. Ketika
kita menetapkan tujuan tertentu, atau menunda ngelakuin suatu hal sampe nunggu
waktu yang tepat sama aja boong. Tidak penting kita sampai puncaknya atau tidak.
Yang penting adalah kita bisa memaknai momen yang dialami saat ini menjadi
suatu tujuan untuk berkontribusi bagi orang lain. Ketika fokusnya adalah untuk
berkontribusi bagi orang lain, mau disukai atau tidak itu udah ga penting lagi.
So, how much you’ve contributed to others?
Komentar
Posting Komentar