Susahnya Bilang Maaf

Tempo hari aku sedang duduk di trans jateng dalam perjalanan berangkat ke kantor. Memang aku berangkat sedikit siang hari itu. Maklum, malam sebelumnya baru saja mengalami kemacetan pasca banjir yang menyebabkan harus berdiri di dalam bis selama 3 jam. Gak papa, aku kuat. Musim hujan memaksaku untuk naik kendaraan umum demi alasan keamanan. Semarang memang rawan banjir apalagi juka hujan deras konsisten terjadi lebih dari 1 jam.  


Bis yang kunaiki cukup kosong. Hanya ada sekitar 8 penumpang. Sebagian laki-laki duduk di bagian depan dekat kursi kemudi. Sedangkan penumpang perempuan duduk di bagian belakang. Aku cukup beruntung mendapatkan kursi untuk duduk selama perjalanan timur ke baratku. Perjalanan awalnya santai saja, sampai kita berhenti di shelter yang cukup besar. Ada serombongan perempuan masuk dan mulai mencari tempat duduk masing-masing. 

Ketika mereka bercengkrama ada keanehan yang terjadi. Mereka semua ternyata menaiki bis yang salah. Seharusnya mereka naik bis yang berlawanan arah dengan tujuan bis ini. Mereka segera bertanya pada kondektur tentang tujuan akhir bis yang ditumpangi ini. Benar saja, mereka seharusnya menaiki bis arah sebaliknya. Seharusnya mereka naik bis menuju terminal penggaron, namun mereka menaiki bis dengan tujuan sebaliknya. 

Mereka berkata bahwa petugas di halte salah memberikan informasi sehingga mereka semua salah menaiki bis. Yaaaa, ketika dipikir memang masuk akal. Karena ada sekitar 7 orang yang naik dan semuanya salah trayek. Mereka menyalahkan petugas yang salah sebut trayek di halte tadi. 

Mbak kondektur yang tersudutkan karena para penumpang yang salah ini, malah balik bicara dengan nada yang sedikit keras. 

"Nanti turun saja di halte balai kota lalu ganti bis ke arah terminal penggaron." 

Wow enteng sekali menyuruh orang-orang macam tidak ada kerugian bagi para penumpang yang salah bis ini. 

Tidak ada kata "MAAF" yang terlontar sama sekali dari mbak kondektur ini. Padahal, jika mengucapkan maaf, mungkin saja kemarahan tim salah bus ini sedikit reda. Dan ya memang ada kesalahan yang dilakukan oleh petugas di halte bus yang menyebabkan kekeliruan perkara trayek bis ini. 

Aku sebagai penonton drama salah bis ini hanya menjadi penonton saja. Yah macam netizen, aku berkomentar dalam hati. Menurutku, Mbak kondektur seharusya meminta maaf dulu atas ketidaknyamanan yang terjadi dalam penggunaan jasa transportasi umum di tempat ia bertugas. Yah, terlepas dari entah memang petugas di halte salah atau memang seluruh crew salah bis ini lagi ngelamun jadi salah naik. Agaknya, cukup bijak jika kita meminta maaf on behalf of all staff. 

Tapi, minta maaf bukanlah perkara mudah. Apalagi jika dalam keadaan terpojok dan tidak mau disalahkan seperti apa yang terjadi pada mbak kondektur tadi. Masa harus merelakan harga diri dan meminta maaf padahal bukan dia yang salah? Mungkin itu yang ada di pikiran Mbak Kondektur ketika menghadapi amukan penumpang salah bis tadi. 

Mengucap maaf memang butuh kerendahan hati. Mengesampingkan perasaan untuk mau selalu benar. Berbesar hati untuk menekan ego dalam diri. 

Dengan mengucap maaf bukan berarti kita rendah dan orang lain lebih tinggi. Dengan mengucap maaf bukan berarti kita kalah  dan orang lain menang. 

Mengucap maaflah untuk kedamaian diri sendiri. Cause yourself deserve a peace. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Going Inside

Belajar Mencintai dari Mr. Queen

Press Pause - Mengambil Jeda